July 2008 Archive

“Dalam Hujan Hijau Friedenau”

July 22nd, 2008

 

Kereta yang sesaat berhenti di Stasiun Friedenau itu memang semula ingin menumpahkan aku dan 99 pasang malaikat yang ingin merayakan pernikahanmu dengan Ellen Adele, Arok. Dari Apartemen Carstennstr 25 B—tempat kita (sepasang iblis manis pemuja Mozart), menggambar percintaan ribuan kelelawar di kanvas bekas dan menciptakan komposisi kebrengsekan Berlin di gamelan sengau dan piano busuk—aku memang merayu para malaikat itu agar mau mengunjungi makamku di Waldfriedhof Zehlendorf. Tentu aku tak bisa lagi melihat tubuhku yang hingga Agustus yang biru masih disorot kamera dan asyik masyuk dalam pemotretan untuk reklame sabun bagi para perempuan uzur itu. Tentu di bawah langit Berlin yang senantiasa menyerupai bentangan kain tetoron abu-abu aku hanya mendapatkan guci abuku dililit akar dan digerogoti para cacing. Dan setelah kremasi yang indah pada Rabu tersaput salju di kuburku, aku memang tak bisa lagi merasakan teduh cemara zedar perkasa yang kini mungkin dilupakan oleh siapa pun yang berjalan tergesa-gesa mengejar kereta. Namun, sebelum menghadiri pesta pernikahanmu, aku memang perlu merasakan sihir cinta yang pernah kausepuhkan di pohon-pohon dan dedaunan penuh embun itu.
Read more »

Anak-anak yang Mengasah Dendam

July 21st, 2008

Dimuat di kolom Budaya, harian Suara Merdeka | Jumat, 25 Juni 2004

KELOMPOK Tonil Kloearga Sedjahtera (Klosed) Solo, Rabu (23) malam lalu, mementaskan lakon “Anak-anak mengasah Pisau” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. Inilah bentuk lain dari pembacaan atas cerpen dengan judul yang sama, karya Tiyanto Triwikromo. Hampir tanpa melakukan penyimpangan atas teks, Sosiawan Leak selaku sutradara malah mencoba bermain-main dengan tragedi yang dari awal ditawarkan Triyanto.
Read more »

Pertunjukan Malam Sepasang Lampion

July 21st, 2008

Dimuat di kolom Budaya, harian Suara Merdeka | Senin, 24 Mei 2004

YAYASAN Lengkong Cilik bekerja sama dengan Penerbit Buku Kompas, bakal menggelar pertunjukan Malam Sepasang Lampion di Auditorium RRI Semarang, Rabu (26/5), pukul 19.00.

Pertunjukan yang disutradarai oleh Agus Maladi Irianto tersebut, bertolak dari cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang dibukukan dalam kumpulan cerpen Malam Sepasang Lampion.

Apa isi pertunjukan itu? Teks Triyanto menjinjing berbagai persoalan yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Ada pemerkosaaan terhadap perempuan-perempuan Tionghoa yang mengenaskan, dan pula ada kehancuran martabat yang dialami oleh orang-orang tak berdosa.
Read more »

Metamorfosis Bagong

July 21st, 2008

Dimuat di kolom Budaya, harian Suara Merdeka | Jumat, 27 September 2002

ANDA benar, saya akrab dengan dia. Tetapi, sungguh, saya tak tahu banyak soal dia. Saya cuma tahu dia lahir di Salatiga, 15 September 1964, dari keluarga buruh pabrik. Tekanan kemiskinan membuat dia jadi kacung, berganti-ganti majikan. Karena mungkin jadi guru jalan meraih drajat lan semat, dia sekolah di SPG, lalu mulang SD, dan 1985 kuliah di IKIP Negeri Semarang (kini Universitas Negeri Semarang).

Kapan lulus? Entahlah. Boleh jadi dia tengah mbagong. Bagong memang sapaan dia suatu ketika. Saat kami makan di sebuah warung soto di Salatiga, perempuan pemilik warung terpekik, “Lo, sampean Bagong Koran to? Oalah, kok manglingi.” Dia nyengir. “Dulu saya selalu mengantar daging ayam dari majikan ke warung ini. Pulang, saya diberi koretan soto,” kenang dia.

Aha! Dia rupanya menikmati pula “fitnah” seorang kolega, yang menilai wajahnya mirip Denny Malik. Dia pun malih nama, bukan rupa. Semula cuma Triyanto. Jadi penulis, dia tambahkan Triwikromo. Sesekali dia pakai nama Teto. Pulang berhaji, ada imbuhan Musa. Haji Musa Triyanto Bagong Teto Denny Triwikromo?
Read more »