
Dimuat di kolom Budaya, harian Suara Merdeka | Jumat, 27 September 2002
ANDA benar, saya akrab dengan dia. Tetapi, sungguh, saya tak tahu banyak soal dia. Saya cuma tahu dia lahir di Salatiga, 15 September 1964, dari keluarga buruh pabrik. Tekanan kemiskinan membuat dia jadi kacung, berganti-ganti majikan. Karena mungkin jadi guru jalan meraih drajat lan semat, dia sekolah di SPG, lalu mulang SD, dan 1985 kuliah di IKIP Negeri Semarang (kini Universitas Negeri Semarang).
Kapan lulus? Entahlah. Boleh jadi dia tengah mbagong. Bagong memang sapaan dia suatu ketika. Saat kami makan di sebuah warung soto di Salatiga, perempuan pemilik warung terpekik, “Lo, sampean Bagong Koran to? Oalah, kok manglingi.” Dia nyengir. “Dulu saya selalu mengantar daging ayam dari majikan ke warung ini. Pulang, saya diberi koretan soto,” kenang dia.
Aha! Dia rupanya menikmati pula “fitnah” seorang kolega, yang menilai wajahnya mirip Denny Malik. Dia pun malih nama, bukan rupa. Semula cuma Triyanto. Jadi penulis, dia tambahkan Triwikromo. Sesekali dia pakai nama Teto. Pulang berhaji, ada imbuhan Musa. Haji Musa Triyanto Bagong Teto Denny Triwikromo?
Read more »