Anak-anak yang Mengasah Dendam
July 21st, 2008
Dimuat di kolom Budaya, harian Suara Merdeka | Jumat, 25 Juni 2004
KELOMPOK Tonil Kloearga Sedjahtera (Klosed) Solo, Rabu (23) malam lalu, mementaskan lakon “Anak-anak mengasah Pisau” di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. Inilah bentuk lain dari pembacaan atas cerpen dengan judul yang sama, karya Tiyanto Triwikromo. Hampir tanpa melakukan penyimpangan atas teks, Sosiawan Leak selaku sutradara malah mencoba bermain-main dengan tragedi yang dari awal ditawarkan Triyanto.
Dia, lewat lima pemainnya (Lawu, Tholeng, Gemphile, Uwi, dan Yonek) menyusup di antara ruang-ruang tragis dan menyebarkan warna humor. Alhasil, teror kengerian “Anak-anak Mengasah Pisau” sebagai cerpen pun sebagian luruh. Lima pemain Klosed yang ‘’seharusnya” horor, menjelma menjadi anak-anak kucing yang menggemaskan, meski pada akhirnya mereka semua muncul membawa teror.
Pentas dibuka dengan lima aktor yang mengekspolorasi bunyi seng. Mereka meloncat, menggelinding, koprol, menciptakan suara-suara berisik dari seng yang selalu beradu dengan lantai panggung.
Perkara seng itu, jangan berpikir tentang simbolik. Sebab, kecuali hanya sebagai media antara, Leak tak berkeinginan untuk memberi semiotik yang lain. ”Saya juga tidak membuat teks Triyanto sebagai catatan kaki atau pijakan gagasan. Pentas ini ya melakonkan apa yang ada dalam cerpen itu,” ujar Leak yang juga penyair tersebut.
Teks Cerpen
Karena itu, bagi mereka yang telah membaca cerpen “Anak-anak Mengasah Pisau”, akan mudah mengikuti pementasan. Pasalnya, Leak tak banyak meninggalkan teks cerpen. Dia juga tak memenggal naskah, bahkan memperpanjang ritme. Konsekuensinya, pementasannya memang menjadi agak cerewet. Dengan penciptaan atmosfer komedi, teks-teks pun berubah cair. Padahal, “Anak-anak Mengasah Pisau” bukan sebuah cerita yang menggelikan.
Sebaliknya, lakon yang diambil dari salah satu cerpen dalam buku Malam Sepasang Lampion itu adalah cerita tentang dunia anak-anak yang jauh dari membahagiakan. Dunia tempat anak-anak memiliki dendam yang membara terhadap orang tuanya. Satu dendam yang menggiringnya untuk selalu mengasah pisau, sebelum kelak pisau itu menemukan orang yang tepat untuk sarungnya.
Mengapa mata pisau itu tak bekerjap menatapmu. Kau yang baru saja mengasahnya berpikir, ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja sehabis makan malam. Ia berkilat ketika terbayang olehnya urat nadimu…. (Ganug Nugroho Adi-81j)